Sunday, August 21, 2011

OSPEK MABA FKG Trisakti 2011 (1)

“OSPEK = Hell ” ??
Dua hari pasca kegiatan OSPEK FKG Trisakti 2011, saya mulai menulis semua pengalaman-pengalaman saya selama di OSPEK ini. Butuh dua hari lebih buat saya untuk memulihkan segala tenaga, pikiran, fisik, dan mental. Karena memang benar, OSPEK melalahkan! So dreadful! Tapi di balik semua ini, ada sesuatu yang nantinya akan kalian semua dapatkan. Apa itu? kado? hadiah? reward? Kita lihat saja nanti :)

Namaku Jocelin, dan biasanya dipanggil Joce. Saat ini saya sudah boleh dan resmi dipanggil sebagai MAHASISWI FKG Universitas Trisakti angkatan 2011! Kegiatan belajar di kampus baru dimulai tanggal 12 September 2011 nanti, jadi ada jeda kira-kira beberapa hari untuk memulihkan segala tenaga dan pikiran pasca OSPEK, untuk menghadapi tahun ajaran baru di kampus baru dengan teman-teman baru. 

Teman-teman saya banyak yang bertanya, OSPEK itu serem ga sih? Memang kebetulan ada beberapa teman saya yang kampus barunya tidak menyelenggarakan masa orientasi atau semacamnya. Ada juga yang bilang "OSPEK-nya biasa aja, mirip MOS di SMA. Jadi gak serem." Sebenernya kategori OSPEK serem itu kaya gimana sih? Apakah yang identik dengan rambut botak untuk para lelaki, kepang dua untuk para wanita, kakak-kakak senior yang super galak? Kalau itu tolak ukurnya, berarti OSPEK yang saya alami ini terbilang cukup "serem" ya? Hmm, tapi saya lebih memilih untuk mengganti kata "serem" dengan "menantang". Kenapa? Karena "serem" itu relatif. Lagipula kalau kita dari awal sudah berpikiran "serem" duluan, sama saja dengan kalah sebelum berperang. Tujuan dari OSPEK itu sendiri sebenarnya kan bukan buat nakut-nakutin. Kalau itu tujuannya, dari tahun ke tahun, kampus bakal sepi peminat donk? kenapa OSPEK itu ditaruh di awal tahun ajaran? 

This is my theory. OSPEK itu bagaikan larutan buffer yang fungsinya sebagai penetral. Sebelum masuk kuliah, kita itu istilahnya masih "berbau-bau" anak SMA. Semua kebiasaan lama, entah itu males-malesan, terlalu bergantung sama guru, ngerjain tugas dengan sistem kebut sebelum-kumpul, semua masih melekat di jiwa kita. Kalau kita tiba-tiba langsung masuk ke dunia kuliah dengan lingkungan yang berbeda 180 derajat, dengan orang-orang yang berbeda pula, dengan tugas dan tanggung jawab yang lebih menuntut, tanpa ada guru wali kelas seperti di SMA yang ngurusin setiap anak walinya, mental kita pun akan shock. Tujuan si "larutan buffer" ini setidaknya menteralkan kebiasaan-kebiasaan SMA kita supaya nantinya siap menghadapi kebiasaan-kebiasaan baru. Di OSPEK, kita seakan-akan diberi simulasi / pengenalan tentang dunia yang akan kita hadapi nantinya. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk menghindari "cultural shock" itu tadi.

Terus, rambut botak dan kepang dua, memang ada hubungannya dengan "persiapan menuju kuliah"? Secara eksplisit mungkin bukan berarti "oh, anak kuliahan harus gundul!" Begitu juga dengan tugas-tugas yang nantinya akan kalian temukan di OSPEK. Jarang ada yang masuk akal sehingga kita berpikir kalau ini semua hanya akal bulus senior untuk balas dendam ke adik-adik angkatan bawah. Pikiran seperti itu pasti pernah terlintas di benak semua orang yang pernah mengalami OSPEK, termasuk saya (I'm not gonna lie). Tapi bukan berarti pikiran itu tidak berubah setelah saya tahu maksud sebenarnya. Dari yang bisa saya simpulkan, semua tugas yang pengerjaannya bisa sampai subuh ini memang pada kenyataannya akan kita alami suatu saat nanti di masa kuliah, misalnya waktu ngerjain tugas akhir dengan deadline mepet, skripsi akhir, atau ujian dengan bahan satu buku tebel yang kalau di SMA dipakai buat satu tahun. Kalau untuk sensasi-sensasi galak dari senior, itu tidak lain tidak bukan supaya mental kita kuat. Pernah denger istilah "dosen killer"? Mental kita harus mulai dibangun saat ini juga supaya nantinya bisa tetep kokoh di hadapan dosen yang "kurang ramah". (Tapi saya sendiri masih belum ketemu dosen yang killer-killer banget. Everything's fine. Jadi dokter kan gak boleh galak-galak, hehe).

OSPEK di FKG Trisakti bisa dibilang cukup "wah" dan menantang, karena saya sendiri belum pernah mengalami OSPEK yang real seperti yang banyak digembar-gemborkan orang. Setelah mengalami sendiri, ternyata memang berjuta rasanya. Deg-degan, seru, kesel, seneng-seneng lagi, bete, ngantuk, ketawa seharian, terharu, khawatir, semua campur jadi satu pengalaman yang gak bakal bisa dilupakan. Oleh karena itu, buat kalian yang sempat berpikiran untuk skip masa orientasi mahasiswa ini, kalian sama saja dengan membuang salah satu cerita hidup yang harusnya bisa kalian bagikan dan banggakan ke semua orang nantinya. "Ah, OSPEK gak OSPEK, yang penting kan kuliah gua beres." That's true, tapi bayangin kalau suatu hari anak kalian nanya "Pa, Ma, waktu kuliah di OSPEK nya gimana?" Terus kalian cuma bisa jawab "Hm, eh,,.. err,.. waktu itu papa skip OSPEK, nak.. Soalnya serem, gak tahan sama senior." atau alasan lainnya. Menurut saya pribadi sih, gak keren ya. Just saying.

Karena saya sudah berhasil (akhirnya) menyelesaikan segala suka-duka OSPEK, alhasil ada cerita yang bisa saya bagikan di sini. This is a brief story about my "hot and cold" relationship during OSPEK. Here we go, first day!

18 Agustus 2011
Kegiatan saya hari ini dimulai dengan psikotes. Ternyata bukan seperti tes IQ yang saya pikir, yang penuh dengan matematika, logika, bentuk-bentuk aneh, dan semacamnya. Dengan soal sebanyak 560 biji selama 1,5 jam, kertas berlembar-lembar, dan tulisan yang kecil-kecil, tubuh pun sudah mulai pegal-pegal di pertengahan waktu tes. Tugas kita sebenarnya simpel, cuma jawab SETUJU atau TIDAK SETUJU tentang suatu pernyataan. Kalo iya kasih centang, kalo gak kasih silang. Begitu kira-kira.

Satu setengah jam berlalu. Sambil menunggu tugas berikutnya, saatnya berkenalan dengan wajah-wajah baru yang belum pernah saya lihat sama sekali. Untungnya saat datang tes, saya tidak sendiri. Kebetulan teman SMA saya, Jamili, juga mendaftar jurusan yang sama, dan otomatis kami akan menjadi teman sekelas dan seangkatan sampai lulus. Berikutnya, ada perkenalan dari kakak panitia OSPEK, yang juga merupakan anggota dari organisasi mahasiswa fakultas khas anak kuliahan, BEM-Badan Eksekutif Mahasiswa (semacam OSIS nya SMA). Nama ketua BEM saya pada waktu itu abang Hardy (semua kakak laki-laki harus dipanggil abang, yang perempuan dipanggil kakak). Ketua panitia OSPEK MABA 2011 kali ini adalah abang Danu. Setelah perkenaan singkat, kakak-kakak panitia yang lain mulai menyebutkan tugas-tugas dan atribut yang harus kita bawa besok. Nah, ini dia yang “ditunggu-tunggu”. Kira-kira begini tugasnya (moga-moga boleh ditulis disini. Kurang lebih sama seperti tahun lalu, walaupun tidak sama persis):
ATRIBUT
  1. Ikat pinggang tali rafia kepang, warnanya ungu dan satu warna masing-masing ketentuan kelompok.
  2. Dasi kupu-kupu ungu
  3. Tas selempang dari karung tepung warnanya sesuai warna kelompok. Tali selempang dari sumbu kompor dikepang warna ungu + warna kelompok. Lambang trisakti warna ungu dr kertas di jait di depan tas nya. Di bawah lambang tulis FKG USAKTI 2011.
  4. Sepatu merek Buttefly + kaos kaki bola selutut: kanan ungu, kiri warna kelompok.
  5. Tali sepatu: kanan warna ungu, kiri warna kelompok.

NAME TAG
  1. Dari karton bentuk gigi molar 1 bawah kiri dengan ketentuan panjang corona ke apex 28,8cm ; mesio-distal 20,11cm ; warna ungu. Dengan karies kelas 2 di distal.
  2. Tali dari sumbu kompor warna kelompok.
  3. Laminating.
  4. Bagian depan name tag diberi nama, SMA asal, nama kelompok, foto 4x6 BG ungu pakai kemeja , gak boleh senyum + tulis motto, visi, dan misi.
  5. Bagian belakang tulis pantun buatan sendiri, foto 4R (yang menurut saya paling gokil) : Foto di depan lampu merah dengan pakai batik + rok panjang hitam, sedang menyikat gigi sampai berbusa, angka lampu merah harus 11

ATRIBUT PERSONAL (kebetulan yang saya catet secara rinci hanya yang untuk wanita saja)
1. Rambut kuncir 2, tanpa sisa dan poni.
2. Bawa pita 9 warna fakultas trisakti
3. Kemeja lengan panjang putih polos, kancingnya harus 9 warna fakultas usakti harus urut juga!
4. Wajib pakai kaos dalam, rok panjang hitam semata kaki, tidak ketat, tanpa belahan dan lipatan rok.
5. Ga boleh pakai make up, asesoris apapun, termasuk jam tangan.
** Yang pria kurang lebih kemeja dengan ketentuan kancing yang sama dengan di atas, celana panjang hitam bahan, berkepala botaknya dengan sisa rambut 1,1 cm.

TUGAS
  1. Sejarah awal Trisakti, kronologi 12 Mei 1998 + waktu2nya (cari di wiki) sebanyak 2 lembar folio bergaris bolak balik tulis tangan
  2. Sebut nama 9 fakultas beserta 27 jurusan. Warna fakultas dan masing2 jurusannya harus sesuai (cek di website www.tisakti.ac.id ) karena setiap fakultas dan jurusan ada warnanya masing-masing. Contoh: FKG identik dengan warna ungu.
  3. Buat profil ketua parlemen FKG Usakti 2010 - 2011
  4. Sebutkan nama dekan, ketua BEM dan parlemen FKG selama kurun waktu 5 tahun terakhir. (lengkap dengan gelar.

Fiuh~ Itu tadi tugas saya di hari pertama. Bandingkan dengan tugas-tugas di SMA. Tugas sebanyak ini biasanya untuk jangka waktu seminggu, tapi untuk kali ini bahkan kurang dari 12 jam (karena banyak waktu yang sudah terpakai oleh jadwal acara OSPEK lainnya yang super padat). Setelah itu, kami pun dibagi menjadi 11 kelompok. Tujuannya tidak lain adalah supaya bisa lebih dekat satu sama lain dan lebih gampang diatur oleh pembimbingnya. Tapi, bagi saya, kelompok semacam ini berguna buat saling bantu-membantu ngerjain tugas. Ada yang tugasnya nyari tugas nomor 1 dan 2 supaya yang lain bisa bantu di nomor lainnya. Ada yang mau menyumbangkan tenaganya bikin dasi kupu-kupu buat satu kelompok, yang lainnya siapin tali rafia, dan seterusnya. Memang pada akhirnya ada juga tugas-tugas yang harus dikerjakan sendiri, tapi kelompok OSPEK itu adalah teman-teman pertama yang akan selalu kita cari pertama kali kalau ada apa-apa. Oleh karena itu, berbaik hatilah pada mereka, jangan dimusuhi! Oh, hampir lupa. Kami juga punya yel-yel khusus angkatan yang bakal terus diingat dan dipakai, setidaknya sepanjang tahun pertama kuliah. Jadi, hafalkan baik-baik ya.
kakak OSPEK: 2011??!!
Mahasiswa Baru: WE ARE BORN TO BE A DENTIST!!! (dengan gaya dan goyangan kepala)

Di hari itu, kami semua juga dikumpulkan bersama di ruang auditorium untuk mendengarkan penjelasan bimbingan konseling dari beberapa dosen. Jujur saja, waktu itu saya hilang fokus sama sekali. Mungkin setelah mendengar tugas-tugas yang begitu bertubi-tubi untuk hari berikutnya, saya pun jadi tidak tenang. "Gimana caranya gosok gigi di depan lampu merah? Kalau tugasnya gak selesai gimana? Sempet makan, tidur, pipis gak ya?" Mama saya kebetulan masih ada di kampus karena hari itu kebetulan ada Parents meeting, dan sewaktu lewat belakang kampus, ternyata banyak sekali abang-abang yang menggelar barang-barang jualan yang "tidak lazim". Ada karton bentuk gigi, tas slempang lusuh dengan lambang ungu yang sama sekali tidak layak jual, tapi justru diburu banyak orang disitu. Yap, ternyata abang-abang itu menjual atribut-atribut OSPEK yang memang pada saat itu sangat diminati para MABA dan ibu-ibu (yang pastinya merupakan orang tua mereka). Para pedagang (legal/ilegal?) itu bisa dibilang memanfaatkan keadaan desperate anak-anak MABA dengan menawarkan barang-barang kebutuhan pokok OSPEK dengan harga naujubile menjulang tinggi. Contohnya selembar karton bentuk gigi yang harganya 5.000, sepatu "lemes" dengan tempelan label Tom and Jerry bertulisan tangan "BUTTERFLY" di sampingnya yang harganya...170.000! Berani taruhan harga modalnya di bawah 50 ribu. Suka tidak suka, apa boleh buat, akhirnya terbelilah sepatu butterfly yang akan menemani hari-hari saya di OSPEK. Sudah tidak ada waktu lagi cari-cari atribut. Namanya juga kepepet. Belum lagi masih ada tugas yang menumpuk di rumah. Maka itu untuk para MABA, siap-siap buat keluarin modal yang gak kecil. Ini dia kira-kira barang belanjaan saya buat OSPEK :


*atribut-atribut
*foto di lampu merah, angka 11!

Saya baru sampai di rumah setelah ber jam-jam menahan malu di lampu merah, kira-kira jam 10 malam, dan tugas menulis belum tersentuh sama sekali. Beruntung waktu itu ada bala bantuan di rumah yang siap menawarkan bantuan tanpa saya minta sekalipun. Memang gak enak banget minta tolong papa, mama, sampe mba, untuk mempersiapkan atribut yang sudah harusnya dikerjain sendiri, tapi situasi ini memang sedang gawat darurat. Kalau gak ada bantuan mereka, mungkin saya gak bakal tidur sama sekali. Hari pertama yang digempur habis-habisan oleh tugas bejibun bisa dibilang masih kurang strategi karena masih baru. Alhasil, banyak waktu yang terbuang di jalan, terlalu banyak mikir, dan sebagainya. Hari kedua harusnya sudah lebih baik perencanaannya. Untuk keesokan harinya, semua MABA harus datang sepagi-paginya. Sebelum masuk kampus, kami masih harus minta tanda tangan kakak senior (satgas) yang sudah menunggu di beberapa tempat yang jaraknya sekitar 100 meter dari kampus. Jika lewat dari jam yang disepakati, kesempatan ditanda-tangan lenyap, dan otomatis kena hukuman (pinalti). Dalam hal ini, nomor HP atau pin BB teman sekelompok sangat berguna, biar kita bisa saling mengingatkan satu sama lain, saling bangunin, saling cover, saling tanggung-menanggung satu dengan yang lainnya. Setelah lolos dari "penjaga istana" pertama, kami pun memasuki hamparan, tempat di mana kami dibariskan dan didempetkan. Saatnya inspeksi!

(..tbc to next post)

 @sinjoelf

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Bird Gadget